Mengapa Alkitab dipercaya

Apakah Alkitab sudah tidak orisinil lagi?, apakah Alkitab memiliki kesalahan dalam pemnyalinannya selama berabad-abad?, apakah Alkitab benar-benar wahyu Tuhan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah muncul selama berabad-abad dan telah dijawab dengan jelas dan tepat selama berabad-abad lamanya, namun banyak orang yang mempertanyakan dari generasi kegenerasi.

Dari sudut pandang iman Kristiani, hal tersebut terjadi karena manusia telah jatuh dalam dosa, natur dosa inilah yang membuat manusia memberontak terhadap Allah dan otoritasNya. Mereka tidak menyukai hukum Tuhan berlaku atas dirinya, karena mereka menolak otoritas-Nya atas diri mereka. Jika kita membandingkan Alkitab dengan buku manapun, tidak ada buku yang seakurat, seindah dan memuat begitu banyak prinsip hidup yang terbaik selain Alkitab. Namun apakah pengatahuan akan hal ini membuat manusia menerima Alkitab?. Banyak orang lebih percaya tulisan Plato, Shakespear, Homer ataupun Kitab Suci yang lain masih lebih oetentik dan orosinil di banding Alkitab, meskipun Alkitab memiliki lebih 6000 perkamen kuno yang ditulis abad pertama sampai dengan ketiga.

CARA ALLAH “MEMPERKENALKAN” DIRI-NYA

Wahyu Umum

Alkitab menyatakan bahwa Allah menyatakan (mewahyukan) dirinya dalam dua cara, yang pertama adalah wahyu umum, diamana Alla menyatakan diriNya secara Umum, baik kepada mereka yang percaya maupun tidak. Allah menyatakan diriNya secara umum melalui alam semesta, hati nurani dan sejarah.

Daud berseru “…hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mazmur19:2-5). Alam yang adalah benda ciptaan menyatakan akan keberadaan Sang Pencipta yang dapat disaksikan oleh semua orang “sampai ke ujung bumi”. Keteraturan alam menyatakan bahwa alam ada bukan karena peristiwa kebetulan atau acak. Jika bumi terlalu dekat atau terlalu jauh dengan matahari maka tidak akan ada kehidupan. Demikian dengan bulan, jika bulan bergeser mendekat dua ratus empatpuluh ribu mil, maka tarikan gravitasi bulan akan menari air laut menjadi pasang yang dapat menutupi daratan.

Sejarah atau History, merupakan His-story bagi orang percaya. Alah yang menciptakan ruang dan waktu, adalah Allah yang sama membentuk daratan dan Allah yang sama yang membentuk sejarah. Allah tidak dipengaruhi sejarah, melainkan Ia “turut bekerja dalam segala sesuatu” (Roma 2:14) termasuk di dalam sejarah. Ia menetukan kapan manusia di ciptakan, kapan Anak-Nya yang tunggal turun kebumi, dan kapan bumi akan berakhir dan bagaimana Ia akan mengakhirinya. Sejarah juga menunjukkan bagaimana Allah menggenapi nubuatan yang ada dalam Kitab Suci. Sejarah juga menunjukkan bagaimana pikiran, ideologi dan filsafat yang menantang Allah berguguran.

Hati nurani yang juga merupakan pelita hati manusia adalah pernyataan umum diri Allah. Paulus menggambarkan hati nurani adalah Taurat bagi bangsa yang tidak menerima Taurat.

Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (Roma 2:14-15)

Selain itu hati nurani menunjukkan keberadaan Allah. Karena itu seluru suku di bumi jika di selidiki selalu memiliki konsep akan Yang Maha Kuasa. Namun karena manusia jatuh dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah, hati nurani dan demikian juga dengan alam semesta mampu menunjukkan keberadaan Allah, namun siapa Allah, ketiga hal tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Wahyu Khusus

Wahyu khusus adalah pernyataan Allah yang hanya dapat dipahamai oleh mereka yang telah percaya atau diberikan anugerah berupa iman kedalam hatinya. Yesus yang merupakan Anak Allah yang menjadi manusia adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kolose 1:15), sehingga”… barangsiapa melihat Aku (Yesus), ia melihat Dia (Bapa), yang telah mengutus Aku. (Yohanes 12:45). Keberadaan Allah Anak sebelum menjadi manusia yang dikenal sebagai Yesus oleh Yohanes disebut dengan “…Firman hidup” (1Yohanes 1:1).

Sedangkan Alkitab adalah “firman Tuhan yang tertulis” (I Korintus 15:54), “tulisan yang diilhamkan (dinafaskan) Allah” (2 Timotius 3:16). Yang menjadi perbedaan konteks Firman dalam Alkitab dengan Yesus sebagai Firman adalah Alkitab adalah “Sebab firman Allah hidup dan kuat” (Ibrani 4:12) yang tertulis, sedangkan Yesus adalah Firman hidup yang berinkarnasi “menjadi manusia” (Yohanes 1:1,4).

Sehubungan dengan Yesus sebagai Anak Domba Allah, yaitu Firman yang berinkarnasi, Ia harus terlahir secara kudus, bebas dari dosa, tak bercacat dan bebas dari kesalahan, oleh karena itu Roh Kudus memiliki peran dalam inkarnasi Yesus. Seperti yang malaikat Gabriel katakan kepada Maria “…Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35). Demikian juga dengan Alkitab, Firman yang tertulis, Roh Kudus memiliki peran untuk memastikan Alkitab ditulis dengan sempurna, tidak bercacat dan bebas dari kesalahan. Para nabi dan juga demikian dengan para penulis Alkitab bernubuat atau menuliskan Firman Tuhan “…oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” 2 Petrus 1:21)

Leave a Reply

Your email address will not be published.